Analisis Faktor Penghambat Transformasi Digital UMKM Di Kawasan Hinterland Kota Batam
DOI:
https://doi.org/10.37385/ceej.v7i3.10349Keywords:
Transformasi Digital, UMKM, Hinterland, Batam, Hambatan Bisnis.Abstract
Transformasi digital merupakan elemen krusial bagi keberlanjutan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), namun implementasinya di wilayah penyangga sering kali menghadapi hambatan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penghambat transformasi digital pada UMKM di kawasan hinterland (pulau-pulau kecil) Kota Batam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap pelaku UMKM di Pulau Belakang Padang dan Pulau Buluh, serta observasi lapangan. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja Technology Acceptance Model (TAM) dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama terdiri dari infrastruktur telekomunikasi yang tidak stabil, rendahnya literasi digital dan self-efficacy teknologi pada pelaku usaha, serta tingginya biaya logistik antarpulau yang diperumit oleh regulasi kawasan Free Trade Zone (FTZ). Selain itu, adanya resistensi kultural terhadap sistem pembayaran non-tunai memperlambat integrasi UMKM ke dalam ekosistem ekonomi digital. Penelitian ini merekomendasikan perlunya kebijakan logistik kolektif dan pendampingan digital yang bersifat lokalistik untuk menjembatani kesenjangan digital antara wilayah mainland dan hinterland.
References
Arifin, Z. (2023). Digital self-efficacy and technology adoption among rural MSMEs in Indonesia. Journal of Small Business Management and Digital Innovation, 12(2), 145–160.
Brown, A. (2023). Intergenerational knowledge transfer in family-owned MSMEs: A path to digitalization. International Journal of Entrepreneurship, 27(1), 88–102.
Chen, L., & Zhang, W. (2023). The geography of digital exclusion: Evidence from border trade zones. Journal of Regional Science & Technology, 45(4), 512–530.
Davis, F. D. (1989). Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of information technology. MIS Quarterly, 13(3), 319–340. https://doi.org/10.2307/249008
Hadi, S. (2020). Kesenjangan digital dan aksesibilitas UMKM di wilayah kepulauan. Jurnal Ekonomi Modern Indonesia, 8(3), 201–215.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Oktavia, R., Putri, A., & Ramadhan, M. (2024). Socio-cultural barriers in digital payment adoption: A study of small island communities. International Journal of Electronic Commerce Studies, 15(1), 34–52.
Porter, M. E. (1985). Competitive advantage: Creating and sustaining superior performance. Free Press.
Prasetyo, H., & Kurniawan, D. (2024). Supply chain management in archipelagic economies: Digitalization and logistics challenges. Indonesian Journal of Business and Management, 19(2), 110–128.
Rahmansyah, F., & Pratama, S. (2025). Regulatory challenges in free trade zones: The case of e-commerce logistics in Batam. Journal of Southeast Asian Economies, 22(1), 67–84.
Sitorus, L., et al. (2024). Customized digital coaching for rural MSMEs: Beyond basic literacy. Journal of Digital Transformation and Society, 6(2), 210–225.
Smith, J., & Gupta, V. (2024). The evolution of TAM 3.0: Incorporating social norms and security perceptions in post-pandemic era. Journal of Technology Acceptance Research, 31(3), 401–420.
Van Dijk, J. (2020). The digital divide. Polity Press.
Verma, S., et al. (2024). Rethinking TAM: Security and risk perception in post-pandemic digital transformation. Tech in Society Journal, 38, 101–118.
Wong, K., Lee, C., & Tan, R. (2024). Island digital divide: Infrastructure inclusion in emerging markets. Asian Journal of Technology Innovation, 32(1), 45–63.
Zulkarnain, I. (2023). Impact of connectivity stability on marketplace algorithm performance for small vendors. Journal of Applied Business Research, 21(5), 334–350.



Template