Ma’u Pogo Sebagai Ruang Sakral: Kajian Interaksi Keindahan Alam, Budaya Lokal Dan Spiritual Dalam Hubungan Manusia Dengan Alam Dan Tuhan

Authors

  • Klemens Mere Universitas Wisnuwardhana

DOI:

https://doi.org/10.37385/ceej.v7i5.11157

Keywords:

Ruang Sakral, Keindahan Alam, Budaya Lokal, Spiritualitas, Hubungan Manusia Dan Alam

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Ma’u Pogo sebagai ruang sakral melalui kajian interaksi antara keindahan alam, budaya lokal, dan spiritualitas dalam hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka (literature review) terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti buku, jurnal, dan laporan penelitian. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi dan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, konsep, dan keterkaitan antar variabel yang dikaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ma’u Pogo merupakan ruang sakral yang terbentuk melalui integrasi tiga dimensi utama, yaitu keindahan alam sebagai medium spiritual, budaya lokal sebagai sistem nilai dan norma, serta spiritualitas sebagai landasan etika lingkungan. Keindahan alam tidak hanya berfungsi secara estetis, tetapi juga membangun kesadaran religius dan ekologis masyarakat. Budaya lokal berperan dalam menjaga kesakralan melalui ritual, mitos, dan norma adat, sementara spiritualitas membentuk hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Namun, modernisasi menjadi tantangan yang berpotensi menggeser makna sakral menjadi nilai ekonomi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi antara alam, budaya, dan spiritualitas merupakan kunci dalam menciptakan hubungan yang seimbang antara manusia, alam, dan Tuhan. Ma’u Pogo memiliki potensi sebagai model ruang sakral berbasis kearifan lokal yang mendukung pelestarian lingkungan dan penguatan nilai spiritual.

References

Berkes, F. (2012). Sacred Ecology (3rd ed.). New York: Routledge.

Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40.

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks: Sage Publications.

Eliade, M. (1959). The Sacred and the Profane: The Nature of Religion. New York: Harcourt, Brace & World.

Krippendorff, K. (2018). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (4th ed.). Thousand Oaks: Sage Publications.

Mere, K. (2026). Kampung Adat Wogo sebagai Sumber Pembelajaran Budaya Lokal. Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ), 7(3), 1494–1500. https://doi.org/10.37385/ceej.v7i3.10378

Mere, K. (2026). Peningkatan Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pelestarian Kampung Adat Wogo. Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ), 7(3), 1643–1650. https://doi.org/10.37385/ceej.v7i3.10428

McFague, S. (2008). A New Climate for Theology: God, the World, and Global Warming. Minneapolis: Fortr

Naess, A. (1973). The shallow and the deep, long-range ecology movement. Inquiry, 16(1–4), 95–100.

Sachs, J. D. (2015). The Age of Sustainable Development. New York: Columbia University Press.

Tucker, M. E., & Grim, J. A. (2001). Religion and ecology: Can the climate change? Daedalus, 130(4), 1–17.

White, L. (1967). The historical roots of our ecologic crisis. Science, 155(3767), 1203–1207.

Zed, M. (2014). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Downloads

Published

2026-05-08

How to Cite

Mere, K. (2026). Ma’u Pogo Sebagai Ruang Sakral: Kajian Interaksi Keindahan Alam, Budaya Lokal Dan Spiritual Dalam Hubungan Manusia Dengan Alam Dan Tuhan. Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ), 7(5), 3968–3976. https://doi.org/10.37385/ceej.v7i5.11157