Suanggi Dalam Kepercayaan Lokal Masyarakat Flores: Antara Mitos, Identitas Budaya Dan Realitas Kehidupan Masyarakat
DOI:
https://doi.org/10.37385/ceej.v7i2.11976Keywords:
suanggi, kepercayaan lokal, mitos, identitas budaya, masyarakat Flores.Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis makna suanggi dalam kepercayaan lokal masyarakat Flores dengan menempatkannya pada tiga perspektif, yaitu mitos, identitas budaya, dan realitas kehidupan masyarakat. Penelitian menggunakan metode tinjauan pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data diperoleh melalui penelusuran dan analisis berbagai artikel jurnal, buku, dan hasil penelitian yang relevan dengan suanggi, kebudayaan Flores, masyarakat Lamaholot, kepercayaan lokal, mitos, agama, dan identitas budaya. Analisis dilakukan secara tematik melalui proses identifikasi, seleksi, interpretasi, perbandingan, dan sintesis literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suanggi tidak hanya dipahami sebagai kepercayaan terhadap kekuatan supernatural, tetapi juga merupakan konstruksi budaya yang berfungsi memberikan makna terhadap berbagai pengalaman kehidupan masyarakat. Suanggi juga menjadi bagian dari memori kolektif dan identitas budaya yang diwariskan antargenerasi. Modernisasi, pendidikan, agama, dan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memaknai suanggi, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan keberadaannya sebagai warisan budaya. Penelitian menegaskan pentingnya memahami suanggi secara kontekstual dan kritis sebagai fenomena budaya dan realitas sosial.
References
Bernadus, M. E. (2023). Penghormatan kepada para leluhur dalam ritus Bau Lolon dan perbandingannya dengan devosi kepada para kudus. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 6(1). https://doi.org/10.23887/jabi.v6i1.69815
Bernadus, M. E. (2025). Suanggi dalam pandangan masyarakat Lamaholot dan pengaruhnya terhadap penghayatan iman Katolik. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 7(1), 78–87. https://doi.org/10.23887/jabi.v7i1.82095
Forth, G. (2009). Separating the dead: The ritual transformation of affinal exchange in central Flores. The Journal of the Royal Anthropological Institute, 15(3), 557–574. https://doi.org/10.1111/j.1467-9655.2009.01572.x
Frömming, U. U. (2016). Peacemaking rituals in the context of natural disaster: A study of the cultural appropriation of potentially dangerous spaces in Nusa Tenggara, Flores, Eastern Indonesia. Worldviews, 20(3), 286–308.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. Basic Books.
Lopulalan, M. D. (2022). Praktik ritual Katolik dan adat di Desa Konga, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur [Skripsi, Universitas Gadjah Mada].
Malinowski, B. (1926). Myth in primitive psychology. W. W. Norton.
Ola, S. S. (2008). Nilai budaya bahasa ritual perang tanding pada etnik Lamaholot di Pulau Adonara, Flores Timur. Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana, 15.
Ola, S. S. (2009). Makna dan nilai tuturan ritual Lewak Tapo pada kelompok etnik Lamaholot di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Humaniora, 21(3). https://doi.org/10.22146/jh.974
Page, M. J., McKenzie, J. E., Bossuyt, P. M., Boutron, I., Hoffmann, T. C., Mulrow, C. D., Shamseer, L., Tetzlaff, J. M., Akl, E. A., Brennan, S. E., Chou, R., Glanville, J., Grimshaw, J. M., Hróbjartsson, A., Lalu, M. M., Li, T., Loder, E. W., Mayo-Wilson, E., McDonald, S., & Moher, D. (2021). The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ, 372, n71. https://doi.org/10.1136/bmj.n71
Rero, D., Hasanuddin, H., Malihah, E., Sapriya, S., & Ratmaningsih, N. (2025). Myth and ritual of Ine Pare: An anthropolinguistic study of Ende-Lio ethnic culture, Flores. Jurnal Arbitrer, 12(3), 383–400. https://doi.org/10.25077/ar.12.3.383-400.2025
Simboh, F. (2025). Eksistensi tarian Hedung sebagai ekspresi identitas budaya etnis Lamaholot di Flores Timur. Tambur: Journal of Music Creation, Study and Performance.
Zed, M. (2014). Metode penelitian kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Template


