Model Pengembangan Gastronomi Lokal Berbasis Komunitas Kawasan Solo Studi Kasus: Serabi Notosuman
DOI:
https://doi.org/10.37385/ceej.v6i6.9720Keywords:
Kuliner Tradisional, Gastronomi Komunitas, Warisan Budaya, Serabi Notosuman, Identitas BudayaAbstract
Serabi Notosuman merupakan kuliner tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai jajanan pasar, tetapi juga sebagai jejak sejarah yang diwariskan sejak tahun 1923 dan dipertahankan hingga empat generasi. Keberlanjutan kuliner ini menunjukkan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Melalui pendekatan gastronomi berbasis komunitas, Serabi Notosuman berperan dalam memperkuat identitas budaya, menyatukan masyarakat, serta membuka peluang ekonomi lokal. Faktor kunci yang mendukung keberlanjutan tersebut meliputi keterlibatan masyarakat, konsistensi keluarga pewaris, dan dukungan pemerintah. Berbagai strategi seperti pembentukan paguyuban, digitalisasi, pengembangan wisata edukatif, dan inovasi yang tetap berakar pada budaya mendorong Serabi Notosuman untuk berpotensi menjadi ikon kuliner nasional maupun internasional. Dengan demikian, Serabi Notosuman bukan sekadar makanan, tetapi sebuah warisan budaya yang hidup dan terus berkembang seiring waktu.
References
Bessière, J., & Tibère, L. (2013). Traditional food and tourism: French tourist practices and representations of local food. Tourism Geographies, 15(4), 588–603.
Kemendikbudristek RI. (2021). Serabi Notosuman sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. SK Penetapan No. 372/M/2021.
Pusdatin Kebudayaan. (2022). Deskripsi Serabi Notosuman. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Richards, G. (2015). Gastronomy and tourism: The rise of culinary culture. Tourism, Culture & Communication, 15(1), 1–7.
Santich, B. (2004). The study of gastronomy and its relevance to hospitality education and training. International Journal of Hospitality Management, 23(1), 15–24.
Timothy, D., & Ron, A. (2013). Understanding heritage cuisines and tourism: Identity, image, authenticity, and change. Journal of Heritage Tourism, 8(2–3), 99–104.



Template